Kamis, 17 Desember 2009

Hikmah Dari Peristiwa Hijrah

“Bagi para fuqoro yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan harta benda mereka (karena) mencari karunia Allah dan keridloanNya, dan mereka menolong Allah dan RasulNya.Mereka itulah orang-orang yang benar”.

Suatu hari, Khalifah Umar bin Khattab mengumpulkan para sahabat untuk membahas penentuan kalender Islam. Karena pada saat itu umat Islam belum memiliki hitungan kalender tersendiri. Sebagian sahabat mengusulkan agar permulaan kalender/penanggalan di mulai dari hari lahirnya Nabi SAW, sebagian lagi ada yang mengusulkan dimulai dari pertama kali Rasulullah saw menerima wahyu. Namun, usul-usul tersebut tidak sepakati.

Ketika Ali bin Abi Thalib mengusulkan agar penaggalan kalender Islam dimulai dari peristiwa hijrah Nabi saw dan kaum muslimin, para sahabatpun menyapakatinya. Dan resmilah perhitungan kalender Islam dimulai dari peristiwa hijrah hingga sekarang. Sehingga tahun penanggalan Islam disebut dengan tahun hijriyyah, diambil dari kata hijrah.

Mengapa dimulai dari peristiwa hijrah? Karena peristiwa hijrah mengandung makna dan pelajaran. Dan pelajaran itu dapat dijadikan contoh oleh generasi setelahnya seperti kita. Sebab, jika kalender kita dimulai dengan peristiwa kelahiran nabi atau dari peristiwa menerima wahyu, barangkali hal itu hanya menjadi keajaiban saja, tanpa dapat kita contoh secara aplikatif. Sedangkan peristiwa hijrah dapat kita contoh secara aplikatif.

Peristiwa hijrah bukan hanya dilakukan Nabi saw saja, namun juga dilakukan kaum muslimin dan para sahabat. Sehingga disana ada kesertaan kaum muslimin dalam hijrah ini. Hijrah merupakan masa transisi dari era Mekkah yang penuh tantangan dan intimidasi ke era Madinah yang menjadi cikal-bakal komunitas Muslim yang dengan leluasa menjalankan syariatnya.

Ketika Rasulullah saw tiba di kota Yatsrib yang kemudian diganti menjadi Madinah, beliau membangun tiga hal yang sangat penting di dalam membangun sebuah Negara.

Pertama, membangun masjid. Dan masjid pertama yang beliau bangun adalah masjid Quba. Ini menandakan bahwa Negara yang akan dibangun beliau adalah Negara Islam. Bukan Negara atheis atau sekuler. Kesejahteraan rakyat yang beliau cita-citakan bukan hanya kesejahteraan fisik, namun juga kebahagiaan batin. Dan itu dapat tercapai dengan mendekatkan rakyat dan konstituennya kepada Allah. Sehingga program pertama setibanya di Madinah adalah membangun sebuah masjid.

Kedua, mempersuadarakan antara kaum Muhajirin yang berasal dari Makkah dengan kaum Anshor yang berasal dari Madinah. Hal ini dalam rangka konsolidasi internal. Sebab, dalam membangun sebuah Negara Islam yang kuat, haruslah dimulai dengan kekuatan aqidah, kemudian kekuatan ukhuwah. Tanpa ukhuwah (bahasa sekarangnya persatuan dan kesatuan), maka suatu bangsa akan lemah dan dapat dipermainkan oleh bangsa lain.

Langkah mempersaudarakan Muhajrin-anshor ini juga menjawab persoalan ekonomi yang dialami kaum Muhajirin (pengungsi). Sebab para pengungsi adalah permasalahan sendiri, sehingga PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) harus membuat badan khusus yang menangani pengungsi bernama UNHCR. Para pengungsi biasanya menghadapi masalah sandang, pangan dan papan. Belum lagi masalah pengangguran, kesehatan dan lainnya. Namun, dengan disaudarakannya mereka, persoalan itu dapat diatasi. Karena, orang-orang Anshor dengan rela menerima saudaranya untuk tinggal, makan dan berpakaian seperti mereka dan di tempat mereka.

Ketiga, melakukan perjanjian dengan pihak non Muslim, dalam hal ini orang-orang Yahudi. Dalam perjanjian itu disepakati agar kedua pihak saling menjaga keamanan bersama dari serangan pihak luar Madinah. Kedua belah pihak juga sepakat untuk menghormati penganut agama masing-masing dan tidak saling mengganggu. Namun dalam perjalanannya. Orang Yahudi sering melanggar perjanjian. Mereka menarik jilbab/hijab kaum muslimat dan menghinakannya setelah turun perintah menutup hijab bagi wanita muslimah. Tentu saja, hal ini telah mengganggu ibadah kaum muslimin, sebab jilbab adalah bagian dari keyakinan agama Islam.

Apa yang dapat kita ambil sebagai pelajaran?

Pertama, carilah pemimpin/partai yang berorientasi dan punya komitmen mendekatkan konstituen/pendukungnya kepada Allah (agama islam). Carilah mereka yang bukan hanya mensejahterakan secara lahiriyah saja, tapi juga rohaninya.

Kedua, carilah pemimpin/partai yang anggotanya solid dan berukhuwah, tidak bertikai dan hanya mementingkan priadinya. Karena, bagaimana akan mempersatukan bangsa, jika dalam tubuh mereka sendiri tidak bersatu?.

Ketiga, Kebanyakan orang Yahudi bermental khianat. Banyak resolusi PBB dan perjanjian yang tidak ditaati oleh bangsa Israel.
Semoga Allah menunjukkan kepada kita bahwa yang benar itu adalah benar dan kita diberi kemampuan untuk mengikutinya, Semoga Allah menunjukkan kepada kita bahwa yang bathil adalah bathil dan kita diberi kemampuan untuk menjauhinya. Amin

Muhammad Jamhuri

0 komentar:

Poskan Komentar

KHUTBAH JUMAT Copyright © 2009 Community is Designed by Bie