Jumat, 17 April 2009

MEMILIH PEMIMPIN

Negeri ini sebetulnya memiliki banyak calon pemimpin, namun untuk mencari profil pemimpin yang adil saat ini jauh dari harapan. Tetapi kita tidak boleh putus asa. Kita wajib berusaha semaksimal mungkin. Untuk memilih siapa wakil kita dan siapa pemimpin kita.

Saat ini, rakyat Indonesia tengah sibuk mempersiapkan pemilihan umum untuk menentukan siapa wakil-wakilnya di Dewan Perwakilan Rakyat, baik ditingkat Pusat, Propinsi maupun ditingkat kabupaten/kodya, maupun wakil-wakilnya yang akan duduk di MPR, DPR dan DPD. Setelah itu kemudian akan memilih Presiden dan wakil presiden. Merekalah orang-orang yang akan kita pilih untuk memimpin negeri ini. Banyak pendapat dikalangan masyarakat kita, bahwa seorang pemimpin harus begini, harus begitu. Sebagai seorang muslim marilah kita coba tengok sejarah mengenai para pemimpin negeri ini, dan para pemimpin dunia yang terdahulu. Dan Islam telah mengajarkan pada kita sejak 14 abad yang lalu, bagaimana sebaiknya memilih seorang pemimpin.

Nabi Muhammad saw. sebagai pemimpin umat

Sejarah telah menunjukkan kepada kita, munculnya pemimpin-pemimpin dunia yang telah berhasil memimpin rakyatnya. Dan kita telah ditunjukkan bagaimana kepemimpinan Rasulullah saw. dalam memimpin umat Islam. Umat Islam juga pernah dipimpin para khalifah, sejak jaman Abu Bakar ash-Shidiq, Umar bin Khathab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, dan sebagainya. Diantara para pemimpin itu Nabi Muhammad-lah yang pantas kita jadikan contoh seorang pemimpin. Bagaimana tidak? Hanya dalam kurun waktu tidak lebih dari 25 tahun beliau mampu mengubah jaman kegelapan menjadi terang. Dalam waktu singkat itu beliau mampu mendidik generasi yang akhirnya menelan dua “Super Power” saat itu, yaitu Imperium Romawi dan Kekaisaran Persia.

Apa yang menjadi kesuksesan Nabi Muhammad saw. memimpin saat itu? Jawabannya adalah keteladanan. Pada diri Rasulullah itu ada satu keteladanan yang baik.

لقد كان لكم في رسول الله اسوة حسنة لمن كان يرجوا الله واليوم الاخر وذكر الله كثير(Q.S 33:21).

Perkataan beliau merupakan wahyu Allah

اِنْ هُوَ اِلاَّ وَحْيٌ يُّوْحى ( Q.S. 53:4).

Selain itu juga sikap beliau yang demokratis. Beliau memerhatikan dan merealisasikan saran-saran dari para sahabat, seperti pada saat menjelang perang Khandaq, beliau perhatikan saran sahabat untuk membuat parit di Kota Madinah. Beliau juga mendengarkan saran sahabat melakukan adzan sebagai panggilan sholat.

Tapi di sisi lain, Rasulullah juga bersikap tegas. Apa yang telah menjadi keputusannya dan diyakini kebenarannya, beliau tak goyah walau dikritik para sahabatnya. Seperti pada saat perjanjian Hudaibiyah. Hal itu menunjukkan karakter seorang pemimpin yang dimiliki Rasulullah, dan kemudian diikuti oleh para sahabatnya, seperti Abu Bakar ash-Shidiq, dengan sikap tegasnya, walau kualitas kepemimpinannya berbeda dengan Rasulullah saw.

Semua pemimpin Islam yang sukses mempunyai karakteristik yang sesuai karakteristik kepemimpinan Rasulullah, meskipun mungkin tidak sama persis 100%. Setiap spesifik karakter kepemimpinan pada diri seperti Khulafaur Rasyidin, Umar bin Abdul Aziz, ataupun Harun al Rasyid, sudah ada pada Rasulullah. Dengan demikian dapat dikatakan, pada diri Rasulullah terakumulasi karakteristik pemimpin yang sukses.

Tentunya untuk saat ini, tidak mudah bagi kita untuk memilih seorang pemimpin seperti Rasulullah saw. Tapi paling tidak kita bisa memilih pemimpin yang banyak meneladani sifat dan karakter kepemimpinan Rasulullah. Misalnya untuk kondisi bangsa saat ini mungkin diperlukan seorang pemimpin yang demokratis, tapi dapat bertindak tegas dalam mengambil keputusan yang tepat.

Ironis sekali memang kalau bangsa Indonesia yang mayoritas umat Islam ini, tetapi masih meraba-raba siapa untuk kita jadikan pemimpin dan wakil-wakil kita yang akan duduk di MPR, DPR dan DPD. Dan siapa orang-orang yang paling tepat dalam memimpin negeri ini, lima tahun mendatang. Padahal sudah seharusnya umat Islam banyak belajar dan mengenal bagaimana kepemimpinan Rasulullah.

Metodologi mengangkat pemimpin

Banyak teori yang mencirikan bagaimana karakteristik pemimpin yang baik itu. Umumnya, terori-teori itu berasal dari bangsa Barat. Menggunakan ilmu dari barat, perlu perhatian ekstra. Dalam hal ini kita perlu merenungi pesan almarhum Dr. Abdullah Azzam. “Silahkan belajar ilmu alam dari Barat, tetapi jangan belajar ilmu sosial dari Barat” waalahu a’lam.

Sebagai seorang muslim, daripada menggunakan metodologi memilih pemimppin secara westernisasi, lebih baik menggunakan metodologi yang dikembangkan para ilmuwan muslim. Salah satu diantaranya oleh Ibnu Taimiyyah.

Menurut Ibnu Taimiyah metodologi pengangkatan seorang imam atau pemimpin sebagai berikut:

1. Mengangkat yang paling layak dan sesuai

Rasululllah bersabda: “Barangsiapa mengangkat seseorang untuk mengurus perkara kaum muslimin, lalu ia mengangkat orang tersebut, sementara dia mendapatkan orang yang lebih layak dan sesuai daripada yang diangkatnya, maka dia telah berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya”

Sementara itu Umar bin Khathab berkata: ”Barang siapa mengangkat seseorang untuk perkara kaum muslimin, karena ia dicintai dan karena kekerabatan, maka ia berkhianat kepada Allah, Rasulnya dan kaum muslimin”

Dalam hadits yang lain Rasululullah juga melarang memberikan jabatan kepada orang yang meminta jabatan kepada orang yang meminta untuk mengusulkan diri atas jabatan itu. Karena saat ini banyak calon pemimpin yang menawarkan diri dan meminta untuk dipilih, dengan berbagai cara kampanye dan promosi agar mereka dipilih. Maka saat ini kita perlu melihat dibalik keinginan dipilih yang kita lihat. Tentu keinginan itu dilandasi berbagai alasan, apakah memang ambisi pribadi, keinginan umat, atau motif lainnya. Tentunya kita perlu jeli, memilih pemimpin yang menawarkan diri karena dilatarbelakangi oleh desakan dan dorongan umat atau sebagian besar masyrakat. Dan, yang jelas Rasullulah melarang memberikan suatu jabatan untuk orang-orang yang memang menghendaki jabatan tersebut.

2. Memilih yang terbaik, kemudian yang di bawahnya

Masalahnya akan timbul manakala ada orang yang benar-benar layak dan sesuai itu jarang ditemukan. Solusinya, dari sejumlah calon yang akan diseleksi dan dipilih yang terbaik. Orang yang terpilih itu hendaknya memenuhi dua kriteria yaitu quwwah (kuat) dan amanat (jujur dan dapat dipercaya). Dasarnya firman Allah:

... إِنَّ خَيرَ مَنِ اسْتَأجَرْتَ القَوِيُّ الاَمِينَ

”Karena sesungguhnya orang yang paling baik untuk kamu ambil untuk (bekerja kepada kamu) adalah orang yang kuat lagi dipercaya.” ( QS 28 : 26 ).

Dalam pemerintahan, kekuatan adalah sikap adil sebagaimana dicontohkan Al Qur’an dan As Sunnah di samping aktualisasinya ditengah masyarakat. Dan pemimpin yang amanat erat kaitannya dengan rasa takut kepada Allah.

3. Sedikitnya manusia mempunyai sifat quwah dan amanat

Realitasnya orang memiliki sifat quwwah dan amanat sekaligus sangatlah jarang. Jika yang ada hanya orang yang bersifat quwwah dan amanat, maka prioritas utama ditentukan menurut kebutuhan di wilayah yang dipimpinnya. Dalam suasana yang kacau dan tidak aman, tentu pemimpin yang kuat dan berani lebih bermanfaat daripada pemimpin yang jujur tetapi lemah. Imam Ahmad pernah ditanya siapakah yang lebih pantas untuk menjadi panglima perang, orang kuat tetapi pendosa ataukah orang shaleh tapi lemah. Jawab Imam Ahmad orang yang lebih pantas adalah orang yang kuat meskipun pendosa. Karena kekuatannya akan menguntungkan orang banyak. Sementara kesukaannya berbuat dosa hanya berdampak untuk dirinya sendiri. Sebaliknya orang yang shaleh tetapi lemah, keshalehannya hanya akan bermanfaat bagi dirinya sendiri sementara kelemahannya akan merugikan banyak orang. Itulah sebabnya mengapa Rasulullah sering mengangkat Khalid bin Walid menjadi panglima perang. Meskipun ada sahabat lain yang lebih shaleh.

4. Metodologi untuk mengangkat yang layak dalam pengangkatan

Seorang pemimpin (Imam sholat) atau khathib pastilah ia seorang panglima perang dan pemegang jabatan lainnya. Itulah yang dicontohkan Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin. Untuk itulah proses pemilihan imam sholat yang dicontohkan Rasulullah digunakan dalam mengangkat orang yang paling tepat menjadi pemimpin.

Karena itu dalam masjid sebetulnya tempat pengkaderan calon pemimpin yaitu melalui aktivitas sholat jamaah. Di masjid akan ditemukan suatu miniatur kehidupan berbangsa dan bernegara. Ada imam (pemimpin), ada makmum (rakyat) dan ada syarat atau rukun sholat berjamaah.

Lebih dari setengah abad Indonesia merdeka, bangsa ini telah mengalami 6 periode masa kepemimpinan. Namun, keadilan dan kemakmuran belum bisa dinikmati secara nyata. Masih perlukah ini dipertahankan? Mengapa tidak ada keberanian mencoba metodologi yang ditawarkan Rasulullah? Ingatlah sejarah Umar bin Abdul Aziz. Beliau hanya perlu waktu 29 bulan untuk mengubah negara yang kacau menjadi negara yang adil dan merata. Beliau bisa berhasil karena menggunakan metodologi Rasulullah saw. Pada masa Umar bin Abdul Aziz inilah bisa kita lihat, bahwa sesuatu yang dimulai dengan kebenaran akan menghasilkan sesuatu yang benar. Pada saat itu Umar bin Abdul Aziz di pilih dan diangkat oleh rakyatnya, bukan minta dipilih dan diangkat. Sehingga yang pada saat pelantikan beliau mengatakan bahwa kepemimpinan yang dipegangnnya adalah suatu beban berat namun, beliau akan memikul amanah itu karena itu adalah kehendak rakyat. Karena itulah, saat mengetahui dipilih menjadi khalifah, beliau berucap “Innalillahi wa inna ilaihi roji’uun” dan bukannya sujud syukur atau bahkan malah syukuran.

Negeri ini sebetulnya memiliki banyak calon pemimpin, namun untuk mencari profil pemimpin yang adil saat ini jauh dari harapan. Tetapi kita tidak boleh putus asa. Kita wajib berusaha semaksimal mungkin. Untuk memilih siapa wakil kita dan siapa pemimpin kita.

والذين جاهدوا فينا لنهدينهم سبلنا وإن الله لمع المحسنين

“Dan barangsiapa yang bersungguh-sungguh, maka Allah pasti akan menunjukkan jalan keluar.” (QS. 29 :69).

Marilah kita mengambil sikap menyiapkan generasi baru yang quwwah dan amanat. Dan untuk saat ini diperlukan, orang-orang berbakat, amanah dan professional. Semoga Allah meridhoi kita dan menunjukkan kepada kita seorang pemimpin yang baik.

0 komentar:

Poskan Komentar

KHUTBAH JUMAT Copyright © 2009 Community is Designed by Bie