Selasa, 08 September 2009

Sifat Ikhlas Dalam Mencintai

Direktori-Islam. Sifat orang-orang yang mencintai kerana Allah dapat dikenali secara umum sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam. Diantara sifat utama setelah Ikhlas dan ittiba kepada Rasulullah dalam perkataan dan perbuatan memiliki tiga sifat :


1. Merasakan manisnya iman.

Telah disebutkan dalam hadits Anas dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam, beliau bersabda,

ثلاث من كن فيه وجد بهن حلاوة الإيمان ، من كان الله ورسوله أحب إليه مما سواهما،ومن أحب عبداً لا يحبه إلا لله ،ومن يكره أن يعود في الكفر بعد أن أنقذه الله منه كما يكره أن يقذف في النار

” Tiga hal yang barang siapa memilikinya maka ia akan mendapatkan manisnya iman,yaitu orang yang lebih mencintai Allah dan RasulNya daripada selainnya, orang yang saling mencintai hanya kerana Allah, dan orang yang benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah selamatkan dia dari kekufuran itu sebagaimana bencinya jika ia dilemparkan kedalam api.”

Hadits ini menunjukkan bahawa keimanan itu memiliki rasa manis yang dapat dirasakan oleh orang yang hatinya tenang dalam keimanan sebagaimana orang dapat merasakan lazatnya makanan. Bahkan iman itu lebih lazat dan lebih baik, kerana ia adalah santapan khusus untuk ruh. Adapun makanan hanyalah untuk jasad yang fana.

Oleh kerananya barangsiapa yang melakukan dosa maka akan dicabut lazatnya ketaatan dan kedekatan dengan Allah. Iapun akan terjerumus kedalam kenistaan. Apabila ia memperbaiki diri, maka ia merasa rindu untuk kembali merasakan nikmatnya kondisi sebelumnya. Ia pun akan merendahkan diri dan memohon kepada Rabbnya supaya mengembalikannya pada kebiasaannya dalam berbuat baik. Namun apabila ia terus menerus dan tidak kembali dan mengalami kesulitan untuk kembali seperti semula maka jiwanya akan semakin merasakan kerinduan yang besar.

Oleh kerananya apabila seseorang telah merasakan manisnya iman dan telah menyatu dalam hatinya maka akan semakin kukuh cintanya. Iapun tidak akan pernah mengutamakan yang lainnya diatas kecintaannya kepada Allah.

Dalam hadits Abu Hurairah dalam kitab Shahih Bukhari disebutkan, sesungguhnya Allah bertanya kepada para malaikat,
” Apa yang diminta oleh para hambaku?” Para malaikat menjawab,” Mereka meminta kepadamu Syurga.” Allah bertanya,”Apakah mereka telah melihatnya?” para malaikat menjawab,”Belum wahai Rabb.” Allah bertanya,” Bagaimana seandainya mereka melihatnya?” Para malaikat menjawab,” Seandainya melihatnya, mereka akan memintanya dengan sangat.” (Bukhari No.6045)

Tidaklah semua itu terjadi kecuali kerana mereka telah merasakan manisnya iman di hati mereka. Demikian pula mereka yang mencintai dan membenci hanya kerana Allah.

Sementara itu pada waktu yang sama, Allah mengharamkan manisnya iman dari segolongan manusia yang menjadikan kecintaannya hanya kerana syahwat dan kesenangan duniawi. Mereka tidak mengikuti jalan para pendahulu mereka yang shaleh yang mencintai, membenci, memberi dan menahan pemberian hanya kerana Allah semata sehingga sempurnalah keimanan mereka. Alangkah jauhnya perbedaan antara generasi ini dan itu.
Maka wajib bagi setiap muslim untuk menjadikan kecintaan, kebencian, loyalitas dan permusuhannya sesuai dengan perintah Allah dan RasulNya. Ia mencintai apa-apa yang Allah dan RasulNya cintai. Ia membenci apa yang Allah dan RasulNya benci. Ia berloyal terhadap siapa-siapa yang Allah dan RasulNya loyal terhadapnya dan ia memusuhi terhadap siapa-siapa yang Allah dan RasulNya musuhi. Adapun sikap terhadap orang-orang yang terdapat pada dirinya kebaikan-kebaikan sehingga ia layak untuk dicintai dan juga terdapat keburukan-keburukan sehingga ia layak untuk dimusuhi sebagaimana orang-orang fasik (dimana mereka berhak untuk mendapatkan ganjaran dan hukuman) maka kecintaan, kebencian dan permusuhan itu disesuaikan dengan kadar kebaikan dan keburukan yang mereka kerjakan.

Allah berfirman:

مَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْراً يَرَهُ ، وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرّاً يَرَهُ

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, nescaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.

2. Mengikhlaskan kecintaan dalam hati sebelum menyampaikannya

Hal ini begitu jelas terlihat dalam kehidupan para salaf yang telah merasakan manisnya keimanan dan merajut tali persaudaraan kerana Allah. Sebelum kecintaan itu ditampakkan, kecintaan mereka kepada saudaranya telah bersemi dari lubuk hati. Ini dikeranakan baiknya hati dan benarnya aqidah mereka. Dalam sebuah hadits disebutkan,

آلا وإن في الجسد مضغة إذا صلحت صلح الجسد كله ، وإذا فسدت فسد الجسد كله آلا وهي القلب

“…ingatlah bahawa dalam jasad ada sekerat daging jika ia baik maka baiklah seluruh jasadnya dan jika ia rosak maka rusaklah seluruh jasadnya. Ketahuilah bahawa segumpal daging itu adalah hati”.(Bukhari No.52 dan Muslim No.1599)

Dari Abu Idris Al Khaulani berkata,” Aku masuk ke sebuah masjid di Damaskus. Aku dapatkan seorang pemuda dan manusia berkumpul bersamanya. Apabila mereka berselisih dalam suatu perkara mereka menyerahkan masalah itu kepadanya dan mengambil pendapatnya. Maka akupun bertanya tentangnya. Dikatakan kepadaku,” Ini adalah Muadz bin Jabal.” Keesokan harinya aku pun bergegas untuk ke masjid dan ternyata dia telah mendahuluiku. Aku dapatkan dia sedang sholat. Maka aku pun menungguinya sampai ia selesai sholat. Lantas aku pun mendatanginya. Aku ucapkan salam kepadanya dan aku katakan,” Demi Allah aku mencintaimu keranaNya.” Dia bertanya,” Kerana Allah ?” Aku katakan,” Kerana Allah !” Ia kembali bertanya,” Kerana Allah?” Aku katakan lagi,” Kerana Allah !” maka iapun memegang selendangku dan mendekatkanku kepadanya. Ia lalu berkata,” Khabar gembira bagimu. Sungguh Aku telah mendengar Rasulullah bersabda,” Allah berfirman,’ Kecintaanku wajib ku berikan bagi siapa saja yang saling mencintai keranaKu.” Demikianlah,tatkala tumbuh rasa cinta Abu Idris Al Khaulani kepada Muadz bin Jabal, ia pun segera memberitahukannya.

Disebutkan pula dalam hadits yang lainnya bahawa Abu salim al Jisyani mendatangi Abu Umayah dirumahnya. Iapun lantas berkata,” Aku mendengar Abu Dzar berkata, Ia mendengar Rasulullah bersabda,” Barangsiapa diantara kalian yang merasa mencintai saudaranya maka hendaklah ia mendatangi rumah saudaranya itu dan memberitahukan bahawa ia mencintainya kerana Allah.” Maka akupun mendatangimu dirumahmu.” Dan masih banyak riwayat lain yang menyebutkannya secara panjang lebar.

Al Khottobi berkata,” Makna dari ini semua adalah anjuran untuk saling mencintai dan berkasih sayang. Yang demikian itu apabila seseorang memberitahukan perasaannya kepada saudaranya maka condonglah hati saudaranya itu kepadanya dan tumbuhlah kecintaan dalam hatinya. Dan apabila seseorang mengetahui bahawa orang lain itu mencintainya maka diterimalah nasehatnya dan tidak akan ditolak perkataanya.”


3.Mencari kecintaan orang-orang sholeh.

Ada banyak hal yang dapat mendatangkan kecintaan manusia. Diantara sebab-sebab itu ada dua hal yang paling penting. Yaitu :

Pertama : Mengikhlaskan rasa cinta bagi orang yang dicintai.

Tidak ada kecintaan yang patut diutamakan oleh makhluk melebihi kecintaannya kepada penciptanya. Barangsiapa yang mencintai Allah, maka Allah akan mencintai dan meridhoinya. Allah pun akan menjadikan manusia ridho kepadanya. Bukhari dan muslim telah meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Hurairah dari Nabi, beliau bersabda,” Apabila Allah mencintai sesorang hamba, jibril akan menyerukan bahawa Allah mencintai fulan dan jibril pun turut mencintainya. Kemudian jibril menyeru kepada penduduk langit,” Sungguh Allah telah mencintai fulan, maka cintailah dia.” Maka penduduk langitpun mencintainya. Kemudian Allahpun menjadikan hamba tersebut bisa diterima oleh penghuni bumi.”


Kedua: Zuhud terhadap kepunyaan manusia.

Apabila seorang hamba mencukupkan dirinya dengan rizki Allah dan tidak meminta-minta kepada manusia, maka manusia akan mencintainya dari dua sisi. Yaitu dari sisi keimanannya dan dari sikapnya yang menjaga kehormatan dirinya. Barangsiapa yang riwayat kehidupannya baik dihadapan manusia dan dihadapan Allah, maka ia termasuk orang sholih. Hal ini sesuai dengan Hadits Suhail bin Saad As Saidi. Ia berkata,”Suatu ketika seorang laki-laki datang kepada Nabi dan berkata,” Wahai Rasulullah tunjukkan padaku sebuah amalan yang apabila aku melakukannya maka aku akan dicintai oleh Allah dan manusia.” Maka Nabipun menjawab,” Zuhudlah didunia tentu Allah akan mencintaimu. Dan zuhudlah terhadap apa yang dimiliki manusia, tentu mereka akan mencintaimu.”

Al Hasan berkata,” Engkau akan senantiasa mulia disisi manusia dan manusiapun akan senantiasa memuliakanmu selama engkau tidak mengambil apa yang mereka miliki. Namun jika engkau mengambilnya maka mereka akan menghindarimu, membenci dan marah terhadapmu.”

Ayub as Sikhiyani berkata,” seseorang tidak akan diterima disisi manusia hingga ia memiliki dua watak. Menjaga diri dari kepunyaan orang lain dan tidak mencampuri urusan mereka.” (Ibn Rajab,Jami’ Al Ulum wal Hikam)

Dan diantara keutamaan yang Allah berikan kepada orang-orang yang saling mencintai adalah mereka mendapatkan cinta Allah dikeranakan mereka mencintai saudaranya dengan iman yang sesungguhnya. Bukan kerana dunia yang fana ataupun materi. Setiap dari mereka memiliki sifat zuhud dari apa yang dimiliki manusia. Maka bertemulah dua orang yang memiliki sifat yang sama hingga tetaplah kecintaan Allah untuk keduanya.
Masyarakat islamiyah tidak akan dapat hidup bahagia kecuali dengan sifat persaudaraan dan kasih sayang yang dibangun hanya kerana Allah semata. Rasa cinta kerana Allah akan senantiasa terkenang kebaikan dan keutamaan di tengah-tengah kaum muslimin. Hal ini kerana ia dibangun diatas keimanan dan aqidah yang benar. Dan hanya orang-orang berimanlah yang saling mencintai kerana Allah dengan penuh keikhlasan. Adapun orang-orang pengumbar hawa nafsu dan kesenangan dunia serta pemburu harta, tidaklah mereka berkumpul kecuali jika ada keuntungan duniawiyah. Oleh kerananya ikatan hubungan merekapun cepat pudar tatkala keuntungan duniawiyah yang mereka harapkan lenyap. Sungguh tidak berbarokah hubungan yang seperti ini.

Mengapakah demikian ?

Kerana jiwa-jiwa mereka telah tertambat pada materi semata, bukan kepada Allah ta’ala. Manusiapun banyak yang menyangka bahawa orang-orang yang berharta itu tidaklah mereka mendapatkan hartanya kecuali kerana usaha, kepandaian dan ambisi mereka. Manusiapun mendekat untuk mencintai mereka lantaran serpihan dunia yang mereka punya. Demikianlah seterusnya. Hingga tatkala harta mereka telah lenyap dan kefakiran nampak pada diri mereka, maka manusiapun tidak lagi mencintainya seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.

Mereka tidak akan mencintai orang-orang sholeh. Kerana kecintaan mereka dibangun bukan kerana Allah.

Sungguh menarik apa yang disampaikan oleh ibnu Abbas tentang Abdurrahman bin Auf. Ibnu Abbas berkata,” Allah telah menjadikan kecintaan baginya di hati para hamba. Tidaklah seorang mukmin memandangnya kecuali akan menghormat padanya. Dan tidaklah seorang kafir atau munafik melihat padanya kecuali akan mengagungkannya.”(Tafsir Al Qurthubi,Tahqiq Ahmad Abdul ‘Alim 11/161)

Dan dikatakan Allah menjadikan kecintaaan dihati kaum mukminin dan para malaikat bagi mereka pada hari kiamat.

0 komentar:

Poskan Komentar

KHUTBAH JUMAT Copyright © 2009 Community is Designed by Bie